Dapatkan produk produk yang berkualitas dan terpercaya
0 items in your shopping cart

Tidak ada produk di keranjang.

Kotoran Puyuh yang Kering dan Tidak Bau, Benarkah Bisa?

Dalam usaha peternakan puyuh, kotoran ternak sering kali menjadi sumber masalah utama. Jumlahnya banyak, cepat menumpuk, dan jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan bau amonia yang sangat menyengat. Bau ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan puyuh, produktivitas telur, serta hubungan peternak dengan lingkungan sekitar. Padahal, jika dikelola dengan benar, kotoran puyuh justru dapat berubah menjadi sumber nilai tambah berupa pupuk organik yang bernilai ekonomi.

Artikel ini menyatukan dua pendekatan penting dalam pengelolaan limbah kandang puyuh, yaitu cara mengeringkan kotoran puyuh agar tidak berbau serta peran Gemak Pro dari Kampung Putra Agro sebagai penghilang bau amonia. Keduanya saling melengkapi dan membentuk satu sistem pengelolaan kandang yang sehat, efektif, dan berkelanjutan.

 

Mengapa Kotoran Puyuh Menjadi Sumber Bau Amonia?

Kotoran puyuh mengandung campuran feses, urine, sisa pakan, dan air minum yang tumpah. Kandungan air yang tinggi ini menciptakan kondisi lembap yang ideal bagi bakteri pembusuk. Dalam proses penguraian secara anaerob, bakteri tersebut menghasilkan gas amonia yang berbau tajam dan menyengat.

Bau amonia akan semakin parah pada kandang dengan kepadatan tinggi, ventilasi buruk, serta manajemen kebersihan yang kurang optimal. Penumpukan kotoran tanpa pengeringan atau pengolahan mempercepat proses pembusukan dan meningkatkan konsentrasi gas berbahaya di dalam kandang.

 

Dampak Bau Amonia terhadap Kesehatan Puyuh dan Produktivitas

Paparan bau amonia secara terus-menerus dapat mengiritasi saluran pernapasan puyuh, menurunkan nafsu makan, dan memicu stres. Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada turunnya daya tahan tubuh, meningkatnya risiko penyakit pernapasan, serta penurunan produksi telur.

Bagi peternak, bau amonia juga menjadi masalah sosial dan ekonomi. Lingkungan sekitar kandang menjadi tidak nyaman, muncul keluhan warga, dan biaya produksi dapat meningkat akibat penurunan performa ternak. Oleh karena itu, pengendalian bau amonia harus dilakukan secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.

 

Prinsip Dasar Mengeringkan Kotoran Puyuh Agar Tidak Berbau

Mengeringkan kotoran puyuh bertujuan utama untuk menurunkan kadar air sehingga aktivitas bakteri pembusuk dapat ditekan. Semakin kering kotoran, semakin kecil peluang terbentuknya gas amonia. Proses pengeringan juga mempermudah pengolahan lanjutan kotoran menjadi pupuk organik.

Pengeringan yang efektif membutuhkan kombinasi antara sistem penampungan yang tepat, pengambilan kotoran secara rutin, sirkulasi udara yang baik, serta dukungan bahan tambahan atau teknologi pengendali bau.

 

Sistem Penampungan Kotoran di Bawah Kandang

Langkah awal yang sangat menentukan adalah penggunaan alas penampung kotoran yang tepat. Alas berupa terpal, seng, atau plat galvanis membantu mencegah kotoran bercampur dengan tanah dan air. Permukaan alas sebaiknya sedikit miring agar cairan tidak menggenang dan mudah dibersihkan.

Dengan sistem penampungan yang baik, kotoran puyuh lebih mudah diambil secara rutin dan proses pengeringan dapat dilakukan lebih cepat serta efisien.

Pengambilan Rutin dan Penjemuran Kotoran Puyuh

Pengambilan kotoran idealnya dilakukan setiap hari atau maksimal dua hari sekali. Kotoran yang telah dikumpulkan kemudian ditebarkan tipis di atas lantai jemur atau terpal. Penjemuran menggunakan sinar matahari langsung merupakan metode alami yang efektif untuk mengurangi kadar air sekaligus menekan mikroorganisme penyebab bau.

Selama penjemuran, kotoran perlu dibalik secara berkala agar kering merata. Dalam kondisi cuaca cerah, kotoran puyuh biasanya dapat kering dalam waktu satu hingga tiga hari.

 

Penggunaan Bahan Penyerap untuk Mempercepat Pengeringan

Untuk mempercepat proses pengeringan dan mengurangi bau, kotoran puyuh dapat dicampur dengan bahan penyerap seperti sekam padi, serbuk gergaji, atau dedak halus. Bahan-bahan ini membantu menyerap kelembapan berlebih sekaligus memperbaiki struktur kotoran agar tidak menggumpal.

Selain itu, penambahan bahan penyerap juga meningkatkan kualitas kotoran sebagai pupuk karena menyeimbangkan rasio karbon dan nitrogen.

 

Tantangan Pengeringan Saat Musim Hujan

Pada musim hujan, proses penjemuran sering kali tidak optimal. Kelembapan udara yang tinggi membuat kotoran sulit kering dan bau amonia lebih cepat muncul. Pada kondisi inilah peternak membutuhkan solusi tambahan yang mampu mengendalikan bau dari sumbernya.

Di sinilah peran produk penghilang bau amonia menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas lingkungan kandang meskipun kondisi cuaca kurang mendukung.

 

Peran Gemak Pro dalam Mengendalikan Bau Amonia

Gemak Pro dari Kampung Putra Agro hadir sebagai solusi penghilang bau amonia yang bekerja dari sumber masalah. Produk ini membantu menekan aktivitas bakteri pembusuk penyebab terbentuknya gas amonia pada kotoran ternak.

Berbeda dengan pewangi kandang yang hanya menutupi bau sementara, Gemak Pro bekerja secara biologis dengan menyeimbangkan mikroorganisme di lingkungan kandang. Hasilnya, bau amonia berkurang secara bertahap namun konsisten.

Cara Kerja Gemak Pro Mendukung Pengeringan Kotoran

Dengan menekan pembentukan gas amonia dan mengurangi kelembapan mikro di area kotoran, Gemak Pro membantu menciptakan kondisi yang lebih kering dan stabil. Kotoran menjadi lebih mudah dikeringkan, tidak cepat membusuk, dan aromanya jauh lebih ringan.

Kombinasi antara pengeringan fisik melalui penjemuran dan pengendalian biologis menggunakan Gemak Pro memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan hanya mengandalkan satu metode saja.

 

Aplikasi Gemak Pro di Kandang Puyuh

Gemak Pro dapat diaplikasikan pada area penampungan kotoran, alas kandang, maupun titik-titik yang rawan bau. Penggunaan rutin membantu menjaga kualitas udara kandang tetap segar dan nyaman bagi puyuh.

Dengan lingkungan kandang yang lebih sehat, puyuh dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal tanpa terganggu stres akibat bau menyengat.

Fermentasi Kotoran Puyuh untuk Nilai Tambah Lebih Tinggi

Setelah kotoran puyuh dikeringkan dan bau amonia terkendali, tahap selanjutnya adalah pengolahan lanjutan melalui fermentasi. Fermentasi membantu menstabilkan kotoran dan meningkatkan kualitasnya sebagai pupuk organik.

Kotoran yang telah difermentasi dengan baik memiliki tekstur remah, tidak berbau, dan aman digunakan untuk tanaman. Produk pupuk ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi peternak.

 

Manfaat Lingkungan dan Ekonomi dari Pengelolaan Kotoran yang Baik

Pengelolaan kotoran puyuh yang baik memberikan manfaat ganda. Dari sisi lingkungan, bau amonia berkurang, populasi lalat menurun, dan kualitas udara di sekitar kandang menjadi lebih baik. Dari sisi ekonomi, peternak dapat menghemat biaya kesehatan ternak sekaligus memperoleh nilai tambah dari limbah yang diolah.

Pendekatan ini juga membantu peternak menjalankan usaha yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

 

Kesimpulan

Mengeringkan kotoran puyuh agar tidak berbau dan mengendalikan bau amonia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam manajemen kandang modern. Pengeringan yang baik menurunkan kadar air dan memperlambat pembusukan, sementara penggunaan Gemak Pro dari Kampung Putra Agro membantu menekan pembentukan gas amonia dari sumbernya.

Dengan mengombinasikan kedua pendekatan tersebut secara konsisten, peternak puyuh dapat menciptakan kandang yang lebih sehat, nyaman, dan produktif. Limbah kotoran tidak lagi menjadi sumber masalah, melainkan berubah menjadi aset bernilai yang mendukung keberhasilan usaha peternakan jangka panjang.