Dapatkan produk produk yang berkualitas dan terpercaya
0 items in your shopping cart

Tidak ada produk di keranjang.

Kubis Terancam GAGAL PANEN karena Akar Gada? Ini Panduan Lengkap dan Solusi Alami Berbasis Trichoderma

Tanaman Kubis (Brassica oleracea): Panduan Lengkap, Penyakit Akar Gada, dan Solusi Ramah Lingkungan dengan Trichoderma

Pendahuluan

Tanaman kubis atau kol (Brassica oleracea) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat populer di Indonesia. Kubis banyak dibudidayakan di dataran tinggi maupun menengah karena memiliki nilai ekonomi yang stabil dan permintaan pasar yang terus ada, baik untuk kebutuhan rumah tangga, restoran, hingga industri makanan.

Namun di balik potensi hasilnya yang menjanjikan, budidaya kubis juga memiliki tantangan besar, terutama serangan penyakit tular tanah. Salah satu penyakit paling merugikan dan sering membuat petani gagal panen adalah penyakit akar gada. Penyakit ini sulit dikendalikan jika sudah parah dan seringkali membuat lahan tidak bisa ditanami kubis kembali dalam waktu lama.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang tanaman kubis, jenis-jenis penyakit yang umum menyerang, fokus pada penyakit akar gada, serta solusi pengendalian ramah lingkungan menggunakan agen hayati Trichoderma. Di bagian akhir, akan dibahas juga penggunaan produk BIOTRIC TRICHODERMA sebagai salah satu alternatif pendukung pertanian berkelanjutan.

 

Karakteristik Tanaman Kubis

Kubis termasuk tanaman sayuran daun yang berasal dari famili Brassicaceae. Tanaman ini memiliki ciri khas berupa daun yang tersusun rapat membentuk krop (kepala) dengan warna hijau muda, hijau tua, hingga ungu tergantung varietasnya.

Beberapa karakter penting tanaman kubis: – Sistem perakaran serabut – Batang pendek dan tebal – Daun lebar dengan lapisan lilin tipis – Umur panen berkisar 70–100 hari setelah tanam

Kubis tumbuh optimal pada suhu 15–25°C dengan kelembapan cukup dan pH tanah ideal antara 5,5–6,8. Kubis kaya akan serat, vitamin C, vitamin K, serta antioksidan. Selain untuk konsumsi segar, kubis juga diolah menjadi berbagai produk seperti sayur fermentasi, isian makanan, hingga bahan industri kuliner.

Nilai jual kubis relatif stabil, sehingga menjadi pilihan utama petani sayuran dataran tinggi. Namun keuntungan ini bisa turun drastis jika tanaman terserang penyakit berat.

Penyakit yang Umum Menyerang Tanaman Kubis

Dalam praktik budidaya, kubis rentan terhadap berbagai penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, maupun hama.

Penyakit Utama pada Kubis

1.   Busuk hitam (Black rot) – Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris.

2.   Busuk lunak – Disebabkan oleh bakteri Erwinia sp.

3.   Downy mildew – Penyakit jamur yang menyerang daun.

4.   Busuk akar dan pangkal batang – Disebabkan oleh patogen tular tanah.

5.   Akar gada (Clubroot) – Penyakit paling berbahaya dan sulit dikendalikan.

Di antara penyakit tersebut, akar gada menjadi momok utama bagi petani kubis karena dampaknya bisa menyebabkan gagal panen total.

Penyakit Akar Gada pada Tanaman Kubis

Pengertian Penyakit Akar Gada

Akar gada adalah penyakit tanaman kubis yang disebabkan oleh organisme Plasmodiophora brassicae, patogen tular tanah yang menyerang sistem perakaran tanaman famili Brassicaceae.

Penyakit ini dinamakan akar gada karena menyebabkan akar membengkak dan berbentuk seperti gada atau pentungan.

 

Gejala Serangan Akar Gada

Gejala serangan akar gada sering tidak langsung terlihat pada awal pertumbuhan. Ciri-ciri yang umum antara lain: – Tanaman tampak layu pada siang hari meski tanah cukup air – Pertumbuhan terhambat dan kerdil – Daun menguning dan mudah rontok – Akar membengkak, bercabang tidak normal, dan membusuk

Jika dicabut, akar terlihat membesar dan rusak, sehingga tidak mampu menyerap air dan unsur hara dengan baik.

 

Faktor Penyebab dan Kondisi Pendukung

Beberapa faktor yang memperparah serangan akar gada: – Tanah masam (pH di bawah 5,5) – Drainase buruk dan tanah terlalu lembap – Penanaman kubis berulang di lahan yang sama – Tidak adanya rotasi tanaman

Spora patogen akar gada dapat bertahan di dalam tanah hingga belasan tahun, sehingga pengendaliannya tidak bisa hanya mengandalkan pestisida kimia.

 

Tantangan Pengendalian Akar Gada Secara Konvensional

Banyak petani mencoba mengatasi akar gada dengan fungisida kimia, namun hasilnya sering tidak maksimal. Hal ini karena: – Patogen berada di dalam tanah dan akar – Spora sangat tahan terhadap bahan kimia – Penggunaan kimia berlebihan merusak mikroorganisme tanah – Biaya produksi meningkat

Oleh karena itu, pendekatan pengendalian hayati menjadi pilihan yang semakin relevan dan berkelanjutan.

Pengertian Trichoderma

Apa Itu Trichoderma?

Trichoderma adalah jamur antagonis yang hidup secara alami di dalam tanah dan berperan sebagai agen hayati. Jamur ini dikenal mampu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tanaman, terutama patogen tular tanah.

Trichoderma bekerja bukan hanya sebagai pengendali penyakit, tetapi juga sebagai pemacu pertumbuhan tanaman.

 

Cara Kerja Trichoderma

Trichoderma memiliki beberapa mekanisme kerja utama:

1.   Mikoparasitisme – Menyerang dan menghancurkan patogen.

2.   Kompetisi ruang dan nutrisi – Menghambat patogen berkembang.

3.   Produksi antibiotik alami – Menekan pertumbuhan jamur patogen.

4.   Meningkatkan ketahanan tanaman – Merangsang sistem imun alami tanaman.

Dengan cara kerja ini, Trichoderma sangat efektif digunakan sebagai pencegahan maupun penanganan penyakit akar gada.

 

Penanganan Penyakit Akar Gada Menggunakan Trichoderma

Prinsip Pengendalian Hayati

Pengendalian menggunakan Trichoderma bertujuan memperbaiki keseimbangan mikroorganisme tanah sehingga patogen tidak mendominasi.

Langkah-langkah umum penanganan:

ü Memperbaiki pH tanah mendekati netral

ü Meningkatkan bahan organik tanah

ü Aplikasi Trichoderma secara rutin

 

Cara Aplikasi Trichoderma pada Kubis

Beberapa metode aplikasi yang umum dilakukan:

1.   Perlakuan bibit Akar bibit kubis direndam dalam larutan Trichoderma sebelum tanam.

2.   Aplikasi ke tanah Trichoderma dicampur dengan kompos atau pupuk kandang matang, lalu diaplikasikan ke bedengan.

3.   Penyiraman berkala Larutan Trichoderma disiramkan ke pangkal tanaman untuk menjaga populasi mikroba baik di sekitar akar.

Penggunaan rutin sejak awal tanam jauh lebih efektif dibanding aplikasi saat penyakit sudah parah.

Manfaat Trichoderma bagi Tanaman Kubis

Penggunaan Trichoderma memberikan banyak keuntungan, antara lain: – Menekan penyakit akar gada secara alami – Memperbaiki struktur dan kesehatan tanah – Meningkatkan pertumbuhan akar – Membantu penyerapan unsur hara – Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia

Dalam jangka panjang, tanah menjadi lebih subur dan produktif.

 

Dalam praktik di lapangan, petani sering membutuhkan produk Trichoderma yang praktis, stabil, dan mudah diaplikasikan. Salah satu produk yang dapat dipertimbangkan adalah BIOTRIC TRICHODERMA.

BIOTRIC TRICHODERMA merupakan formulasi agen hayati Trichoderma yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan tanah dan akar tanaman. Produk ini cocok digunakan pada budidaya kubis maupun tanaman hortikultura lainnya.

Beberapa keunggulan yang sering dicari petani:

ü Mudah diaplikasikan

ü Dapat digunakan sejak pra-tanam

ü Mendukung sistem pertanian ramah lingkungan 

ü Cocok dikombinasikan dengan pupuk organik

Penggunaan BIOTRIC TRICHODERMA secara rutin dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan penyakit akar gada, terutama pada lahan yang memiliki riwayat serangan berat.

 

Strategi Terpadu Mengendalikan Akar Gada pada Kubis

Agar hasil lebih optimal, pengendalian akar gada sebaiknya dilakukan secara terpadu: – Rotasi tanaman non-Brassicaceae – Pengapuran tanah masam – Penggunaan pupuk organik matang – Aplikasi agen hayati seperti Trichoderma

Pendekatan ini tidak hanya menekan penyakit, tetapi juga menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.

 

Penutup

Tanaman kubis merupakan komoditas penting dengan potensi keuntungan tinggi, namun sangat rentan terhadap penyakit akar gada. Penyakit ini sulit dikendalikan jika hanya mengandalkan cara konvensional.

Pemanfaatan Trichoderma sebagai agen hayati menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan aplikasi yang tepat dan rutin, Trichoderma mampu menekan patogen tular tanah sekaligus memperbaiki kesehatan tanah.

Sebagai pendukung praktik tersebut, BIOTRIC TRICHODERMA dapat menjadi salah satu pilihan produk yang membantu petani dalam menjaga tanaman kubis tetap sehat dan produktif. Dengan pengelolaan yang baik, risiko gagal panen dapat ditekan dan hasil budidaya kubis menjadi lebih optimal.